Awas!!! Hukum Minyak Bulus Najis Haram Atau Halal




Hukum Minyak Bulus Najis Haram Atau Halal



Wajib Baca Hukum Minyak Bulus Najis Haram Atau Halal?. Ulasan kali ini mengenai hukum minyak bulus najis haral atau halal. Bulus adalah hewan yang namun memiliki moncong yang habitatnya di sekitaran sungai. Bulus sering diolah menjadi obat herbal untuk mengatasi gatal, mengatasi masalah ranjang, menghilangkan selulit serta berbagai masalah kulit lainnya. Bulus memiliki nutrisi yang sangat tinggi dan kaya akan protein. Selain itu, bulus juga mengandung lesitin yang mampu memecah lemak dalam darah sehingga baik untuk menjaga kesehatan tubuh.

Apakah hukum minyak bulus najis haram atau halal?


Dalam islam sendiri sebenarnya belum ada hadist maupun ayat Al-Qur’an yang melarang dengan tegas menjelaskan halal atau haramnya hewan yang hidup di dua alam, kecuali katak yang memang diharamkan. Dengan demikian, hewan yang hidup di dua alam (Selain katak) hukumnya kembali pada patokan dasar : “Hukum asal segala sesuatu itu halal. Kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya”. minyak bulus memperbesar payudara dengan cepat

Terkait permasalahan ini, terdapat selisih faham diantara 4 madzhab. Madzhab Maliki membolehkan binatang yang hidup di dua alam untuk dimakan. Madzhab Syafi’i memiliki pendapat yang sedikit berbeda, yaitu boleh memakan semua jenis binatang yang hidup di dua alam, kecuali katak. Sedangkan Madzhab Hambali mengatakan jika boleh mengkonsumsi hewan yang hidup di dua alam, asalkan disembelih dengan aturan Islam. Jika 3 Madzab sebelumnya membolehkan mengkonsumsi hewan yang hidup di dua alam, Madzhab Hanafi justru melarang dengan tegas. Madzhab Hanafi berpendapat bahwa hewan air yang halal hanyalah ikan.

Meski terdapat selisih pendapat, namun sebagian besar ulama percaya jika labi-labi itu halal dan boleh dimakan. Asalkan, disembelih dan diolah dengan cara yang benar.Jika bulus dihukumi halal, apakah minyak bulus najis? Tentunya tidak. Jika dagingnya saja halal untuk dimakan, maka boleh bagi umat islam untuk menggunakan minyak bulus. Baik untuk menjaga kesehatan maupun sebagai bentuk pengobatan.


Hukum Pemakaian Minyak Bulus Menurut Beberapa Ulama


Dalam hal ini juga terdapat beberapa pendapat diantara para ulama mazhab mengenai hukum hewan yang hidup di dua alam. Berikut ini rincian perbedaan pendapat ulama mazhab, sebagai berikut.

1.    Ulama Hanafiyah
Menurut pendapat ulama Hanafiah, semua hewan yang hidup di dua alam tidak halal. Hanya hewan air yang dihukumi halal, dan itu hanyalah berlaku bagi ikan. Penjelasan lebih rinci dapat dilihat di dalam kitab Al Ath’imah, halaman 91-92.

2.    Ulama Malikiyah
Pendapat ulama Malikiyah membolehkan secara mutlak hewan yang dapat hidup di dua alam diantaranya adalah katak, buaya, kura-kura, penyu, bulus atau labi-labi dan kepiting.

3.    Ulama Hambali
Menurut pendapat ulama Hambali, hewan yang hidup di dua alam tidaklah halal terkecuali bila disembelih terlebih dahulu. Akan tetapi berbeda dengan kepiting, maka diperbolehkan untuk tidak menyembelih kepiting karena termasuk jenis hewan yang tidak memiliki saluran darah.

4.    Ulama Syafi’iyah
Berdasarkan pendapat ulama Syafi’iyah dibolehkan secara mutlak hewan yang dapat hidup di dua alam kecuali katak. Sedangkan hukum tentang burung air maka dihalalkan jika disembelih terlebih dulu dengan cara yang syar’i.


Jadi hukum mengkonsumsi daging bulus maupun hukum pemakaian minyak bulus adalah “Dihalalkan hukumnya, asalkan melalui proses penyembelihan terlebih dulu, karena bulus termasuk jenis hewan yang dapat bertahanlama  di dua alam dan memiliki saluran darah.”.
Bagi Anda yang selama ini bertanya-tanya mengenai hukum pemakaian minyak bulus sebagai obat alami, maka Anda tidak perlu ragu lagi mengenai hukum pemakaian minyak bulus.